Seminar Sehari New Update in Cardiovascular Disease in Imaging & Intervention

Penyakit Jantung koroner termasuk penyakit yang ditakuti masyarakat. Selain angka kasus yang terus meningkat, penyakit tersebut menjadi penyebab kematian tertinggi baik di dunia maupun Indonesia.

Demikian terungkap dalam acara seminar sehari dengan tema ‘New Update In Cardiovascular Disease in Imaging dan Intervention” yang digelar di Rumah Sakit Umum (RSU) Islam Harapan Anda Kota Tegal, Kamis (22/2).

Dalam seminar tersebut, juga dihadiri ratusan dokter umum dan spesialis dari Brebes- Slawi- Tegal hingga Pemalang dan Pekalongan. Sementara seminar juga menghadirkan nara sumber diantaranya dr. Hakim Tohari SpRM. MMR, dr. Faris Basalamah, Sp.JP (K) FIHA, FAPSIC, FAsCc, dr. BRM Ario Soeryo Kuncoro, Sp.JP(K) FIHA FAsCC, dr. Min Athoilah, Sp.JP, dengan moderator dr. Min Athoilah, Sp.JP dan dr. Erdiansyah Sp.JP.

”Seminar ini juga untuk mengenalkan sejawat bagaimana tata laksana agar bisa stabil. Bisa stemi atau dengan peningkatan elevasi segmen este. Dan jika tidak stabil maka harus dilakukan penanganan segera ketika menjumpai pasien jantung koroner,” terang dr. Min Athoilah, Sp.JP .

Diantaranya dengan penanganan memberi dan tindakan. Dan apabila waktunya baik, kurang dari enam jam maka bisa dilakukan penyelamatan otot jantung, dengan obat atau tindakan.

”Setidaknya ada 50 pasien yang datang ke poli jantung dalam sehari. Sebanyak 50–60 persen pasien mengalami penyakit jantung koroner (PJK). Itu baru sehari. Sebulan, setahun, dan jumlahnya terus bertambah,” ulas dokter yang akrab disapa dokter Atho.

Tingginya angka kasus PJK dipicu empat faktor. Yakni, kebiasaan merokok, kolesterol, darah tinggi, dan gula (diabetes). Rata-rata pasien yang terkena PJK berusia lebih dari 40 tahun. Namun, tak tertutup kemungkinan penyakit itu menyerang usia muda.

”Untuk diagnosis PJK, memang perlu alat penunjang yang harus digunakan. Selama ini, banyak RS hanya menggunakan alat penunjang rontgen dada, rekam jantung, ekokardiografi, dan treadmill. Biasanya, jika mengarah pada PJK, pasien dirujuk ke RS yang ada di kota besar,” ulasnya.

Namun, kini masyarakat atau PJK tidak perlu khawatir, karena saat ini di RSU Islam Harapan Anda Tegal telah memiliki alat cath lab.

dr. Min Athoilah juga menjelaskan, cath lab adalah layanan yang dilakukan di laboratorium kateterisasi jantung dan angiografi. Tujuannya, mendiagnosis lebih lanjut penyakit jantung dan pembuluh darah.

”Melalui cath lab, kami bisa melihat secara langsung pembuluh darah koroner. Seberapa besar sumbatannya dan di mana letaknya. Jadi, intervensi berikutnya bisa tepat,” terangnya.

Dokter perawakan kecil ini juga menyebut kenapa para dokter kerap kali menggelar seminar jantung terus menerus? Ini karena PJK penyebab kematian nomor 1 di dunia dan indonesia termasuk di Kota Tegal dan sekitarnya.

”Kasusnya semakin banyak. Jadi apabila kita mendeteksi lebih awal, maka bisa menurunkan. Karena walaupun pasien itu sembuh namun harus tetap berobat,” ungkapnya.

Artinya dengan seminar yang mengundang para dokter umum ini, karena mereka merupakan garda di depan. Sebab mereka yang bertugas di Puskesmas, UGD dan dokter rujukanlah mereka yang menemui awal ketika ada pasien mengalami beberapa gejala jantung.

”Dengan mereka menghadiri seminar dan tahu dengan acara ini, para dokter bisa segera menangani lebih cepat, tepat dan berdampak baik,” akunya.

Dokter spesialis jantung ini juga menjelaskan bahwa sistem kerja Cath Lab ini yakni intervensi non bedah. Artinya kita hanya melakukan pembiusan lokal di tempat yang akan dilakukan cateter.

”Yakni bisa dilakukan di lengan, dan paha. Kemudian dimasukan selang kecil cateter. Dari cateter tersebut masuk beberapa alat, termasuk balon atau ring. Jadi, tidak dilakukan bedah besar atau bius lama,” ulasnya.

Dalam pengoperasian dengan Cath Lab juga waktunya singkat, prosedur luka kecil dan pasien tidak lama di RS.

”Di Jawa Tengah, Cath Lab ini hanya beberapa saja dimiliki oleh Rumah Sakit. Untuk wilayah Karisidenan Pekalongan saja, hanya ada di RSU Islam Harapan Anda Tegal,” bebernya.

Hal sama juga dikatakan dr. Faris Basalamah, Sp.JP (K) FIHA, FAPSIC, FAsCc. Dokter ganteng yang memiliki jambang panjang itu juga menambahkan bahwa bicara tentang tata laksana pada sindrom koroner akut serangan jantung memang ada beberapa pilihan terapi yang mana makin cepat, lebih baik dan kita bisa menyelamatkan nyawa lebh baik, lebih cepat dan lebih agresif.

”Sekarang ini berkembang teknologi invasiv non bedah. Pasien dilakukan kateririsasi penyempitan dan penyumbatannya. Sehingga kalau ada pengentalan darah bisa dilebarkan. Dan aliran darah juga bisa dilebarkan serta pasien bisa diselamatkan karena serangan jantungnya,” ulasnya.

dr. Faris juga menambahkan bahwa Cath Lab ini merupakan alat yang saat ini menjadi alat yang mutakhir dan sudah menjadi standar terapi kasus jantung koroner dan koroner secara dunia.

”Penggunaan atau pengoperasian Cath Lab juga tidak lama. Bahkan, dalam operasi dengan bius lokal hanya sekitar 30 menit- 1,5 jam dan atau tergantung kasusnya,” bebernya.

Sebelum ada Cath Lab, sejumlah RS dalam penanganan PJK hanya mengunakan obat saja, dan tidak dilakukan penangan invasif.

(sumber : Surat Kabar Harian Radar Tegal, 23 Februari 2018).